Luka di punggung Hera telah sembuh tanpa bekas sama sekali. Sama seperti tangan Mete, ramuan dari dokter kepercayaan Edmund sangat manjur. Polo menyuruh Mete menggunakan obat itu untuk dirinya agar cepat sembuh dan kembali merawat Hera. Hera cukup berterima kasih dengan kebaikkan hati Polo. “Udara semakin dingin, kau tidak bisa mengenakan semua gaun tidurmu lagi, perapian tidak akan banyak membantu.” Hera tidak menjawab, tatapannya jauh kedepan. Hera tidak tahu apa yang sedang dipikirkannya yang jelas saat ini otaknya sedang bekerja. Dia duduk di dekat balkon, melihat jauh kedepan yang tidak menawarkan pemandangan indah sama sekali karena cuaca sangat buruk, gelap berkabut. Sejauh mata memandang Hera melihat sebuah kereta kuda yang makin lama makin dikenalnya karena pernah menumpangi

