Pagi itu matahari menembus masuk lewat celah tirai kamar, menyinari wajah Vivienne yang masih lelap. Namun rasa lelap itu tak bertahan lama, tubuhnya tiba-tiba tergerak. Ia meraih ke sisi tempat tidur, berharap mendapati sosok Valiant. Kosong. Vivienne mengerjapkan matanya beberapa kali, lalu bangkit duduk sambil mengusap wajahnya. "Valiant?" panggilnya lirih. Tak ada sahutan. Ia menoleh ke kanan, lalu ke kiri, seolah berharap kakaknya muncul dari balik pintu kamar. Hanya kesunyian yang menjawab. Dengan hati berdebar, ia turun dari tempat tidur. Kakinya menapak dinginnya lantai marmer. Dia melangkah keluar kamar, memeriksa lorong, lalu ruang tamu. Sunyi. Jeremi yang masih setengah sadar turun dari sofa dan melihat istrinya berdiri di tengah ruang tamu, wajahnya gelisah. "Vivienne... kam

