Malam itu, suasana rumah besar keluarga William berubah hening. Tidak ada lagi tawa, tidak ada lagi tamu, tidak ada lagi musik yang mengalun lembut seperti siang tadi. Semua lampu di ruang utama sudah dimatikan, hanya menyisakan beberapa cahaya kecil di koridor. Namun di lantai atas, dari balik pintu kamar yang tertutup rapat, samar-samar terdengar suara isak yang tertahan. Rosalinda duduk di tepi ranjang dengan gaun pertunangan yang belum sempat ia lepaskan, matanya sembab, wajahnya memucat, dan jemarinya terus memutar cincin kecil lain yang ia kenakan di tangan kiri—cincin yang bukan dari Valiant, tapi pemberian ibunya sebelum berangkat ke Jakarta. “Bahkan sekarang pun aku tidak pantas bahagia,” gumamnya lirih. “Aku hanya membuat malu semua orang.” Ia menatap bayangannya di cermin besa

