Jeremi menatap wajah Vivienne yang masih cemberut di kursi samping mobilnya. Sejak mereka keluar dari kafe tadi, Vivienne tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Hanya menatap keluar jendela dengan wajah murung. Suasana di dalam mobil terasa tegang, padahal Jeremi sudah berusaha memutar musik lembut untuk mencairkan keadaan. “Viv…” Jeremi akhirnya membuka suara, dengan nada selembut mungkin. “Kamu mau marah sama aku sampai kapan? Aku kan cuma nggak mau kamu bikin keributan di depan umum. Itu aja.” Vivienne tidak menoleh. Ia hanya menghela napas, matanya masih menatap jalanan kota yang mulai sepi. Jeremi mendesah, lalu menepuk setir mobil pelan. “Ya ampun, kamu ini keras kepala banget. Oke, aku tahu kamu kesel. Aku tahu kamu pengin tahu soal Valiant. Tapi, sayang… kamu harus bisa bedain, ma

