Tidak lama setelah pintu apartemen tertutup, keheningan yang menyesakkan kembali memenuhi ruangan. Alicia masih berdiri di tempat yang sama, menyentuh bibirnya yang masih terasa hangat. Senyumnya belum sepenuhnya surut ketika tiba-tiba ponselnya bergetar. Nada dering itu memecah keheningan, melengking, mengganggu. Nomor tidak dikenal muncul di layar. Namun Alicia tahu persis siapa itu. Hanya satu orang yang memiliki nomor barunya. Rico. Napas Alicia tertahan. Tangan yang memegang ponsel sedikit bergetar, bukan karena takut… tetapi karena tidak suka. Dengan enggan dia akhirnya menggeser tombol untuk menjawab. “Halo?” Suaranya terdengar pelan dan ragu. “Bagaimana hasilnya? Apakah kamu berhasil?” Suara Rico tajam, keras, tanpa sopan santun. Tidak ada salam, tidak ada waktu untuk bern

