Juan memacu mobilnya tanpa peduli batas kecepatan. Jalanan malam terasa kabur di matanya, pikirannya hanya dipenuhi satu nama, Alicia. Firasat buruk itu tidak juga pergi. Justru semakin menekan dadanya, seolah ada tangan tidak kasatmata yang mencengkeram jantungnya. Saat melewati sebuah tikungan menuju area lama yang sepi, lampu mobilnya menangkap sosok tergeletak di pinggir jalan. Juan menginjak rem mendadak. Mobil berhenti dengan decitan panjang. “Astaga…” napasnya tercekat. Ia turun berlari, lututnya hampir lemas saat mengenali wajah itu. “Ana!” Tubuh Ana tergeletak tidak sadarkan diri. Ada bekas pukulan di pelipisnya, bibirnya sedikit berdarah. Juan segera berlutut, tangannya gemetar saat memeriksa napas Ana. Masih hidup. Syukurlah… masih hidup. “Ana… Ana, dengar aku,” pangg

