Namun Zack justru menoleh dengan mata merah, rahang mengeras, tubuhnya bergetar bukan karena takut, melainkan karena rasa geram dan kebenaran yang selama ini ia pendam sendirian. “Kenapa aku harus mendengarkan mu?” desis Zack, suaranya retak penuh luka dan amarah. “Sejak kapan aku harus tunduk pada seseorang yang bahkan bukan ayah kandungku?” Ucapan itu jatuh seperti petir. Tubuh Juan membeku di tempatnya, tidak menyangka kalau Zack sebenarnya sudah tahu sejak dulu. Alicia memandang keduanya dengan mata membesar, selimut di dadanya tergenggam erat hingga buku jarinya memutih. “A–apa?” bisiknya, suara nyaris tidak keluar. Zack melangkah selangkah, menatap Juan tanpa berkedip. “Aku sudah lama tahu. Bertahun-tahun. Kalian pikir aku bodoh? Wajah pun tidak mirip. Sifat pun tidak. Darah k

