“Lepaskan tanganku!” “William, lepaskan!” Teriakan serta tarikan paksa yang Sella lakukan sejak tadi tak ada satupun yang William hiraukan. Saat ini dia memilih menulikan telinga dari suara Sella. Fokus mata William hanya tertuju pada sosok dua pria di depannya. Iya, kini Edward tengah berhadapan langsung dengan Prawira. Walaupun kondisinya sedang tidak baik-baik saja, tapi saat melihat kedatangan Edward tatapan Prawira terus tertuju padanya. Selama beberapa menit suasana berubah menjadi hening, hanya suara isak tangis Sella yang terdengar di dalam kamar. Sengaja William diam, karena dia ingin melihat terlebih dahulu drama dua orang tersebut. “Anda.” Tangan Prawira terangkat, jari telunjuknya mengarah tepat kepada Edward. Terlihat banyak yang ingin pria itu ungkapkan, tapi semua terha

