‘Hallo Ayah, Bunda, aku dating.” Sapaan riang nan lembut itu seketika mendapat jawaban. Bukan lagi jawaban berupa suara, tetapi hembusan angin yang menerpa. Sesaat Sella terdiam, memandangi dua gundukan tanah di depannya. Berat memang, akan tetapi senyum tipis tergambar di bibir Sella. Waktu berjalan memang sangat cepat. saking cepatnya, Sella seperti sedang berlari walaupun kenyataannya dia sedang mengumpulkan tenaga untuk bangkit. Pasca meninggalnya Prawira, Sella memang kembali ke rumahnya. Bukan hanya itu, hubungan Sella dengan William semakin rengang. Tidak perlu mencari alasan. Karena Sella tahu di mana dan sedang apa pria itu. Berkali-kali Sella menghubungi, tapi tidak ada respon. Bukan ingin membawa kembali, Sella mengubungi William untuk meminta berkas perceraian. Harapan itu

