Sivia menyilangkan tangan di depan d**a. Matanya memicing, penuh sindiran. “Profesional? Setelah kamu datang malam-malam hanya untuk memperingatkanku seperti anak kecil yang takut mainannya direbut? Itu profesional?” Kenzo mendekat satu langkah. “Aku datang sebagai suami. Suami dari perempuan yang kamu perlakukan dengan ucapan tidak pantas.” Sivia tertawa pelan, tapi kali ini penuh cemooh. “Lucu. Aku hanya kasih s**u stroberi. Yang baper siapa?” Lift berhenti di lantai tujuh. Pintu terbuka. Tapi tak ada satu pun dari mereka yang keluar. Kenzo masih menatap Sivia, kali ini lebih serius. “Kamu tahu Zeya orang yang sangat sensitif. Dia sedang hamil. Kata-kata kecil bisa jadi luka besar.” Sivia menatap balik, tapi kali ini sorot matanya mulai goyah. Ia menggigit bibir bawahnya pelan, lalu

