Setelah perbincangan panjang yang melelahkan secara emosional, Zeya dan Kenzo memilih untuk duduk lebih lama di sofa ruang keluarga. Televisi menyala dengan volume rendah, tapi tak satu pun dari mereka benar-benar memperhatikannya. Keduanya tenggelam dalam pikiran masing-masing. Kenzo mengecek ponselnya. Beberapa pesan masuk dari kolega di rumah sakit. Matanya menyipit membaca satu pesan dari bagian manajemen rumah sakit. "Apa ada kabar baru?" tanya Zeya sambil melirik suaminya. Kenzo mengangguk pelan. "Manajemen rumah sakit akan buat konferensi pers. Mereka bilang ini bukan hanya menyangkut namaku, tapi juga nama rumah sakit secara keseluruhan. Dan… kamu juga disebut, Sayang. Mereka minta kita siap sedia jika nanti diminta hadir sebagai pernyataan resmi." Zeya menarik napas dalam-dala

