Pov Bagas Pagi itu belum sepenuhnya ramai ketika pintu ruanganku diketuk. Aku baru saja menyalakan laptop dan membuka beberapa laporan lama yang belum sempat kusentuh semalam. Kepalaku masih terasa berat, tapi pikiranku sudah bekerja sejak tadi subuh. Aku mencoba menyusun potongan-potongan yang terasa semakin tidak masuk akal. “Masuk,” kataku tanpa menoleh. Pintu terbuka, dan langkah kaki yang terdengar mantap itu langsung membuatku tahu siapa yang datang, bahkan sebelum aku mengangkat kepala. “Lo datang lagi,” gumamku sambil tetap menatap layar. Raka tidak menjawab. Dia menutup pintu di belakangnya, lalu berjalan mendekat dengan langkah yang tenang. Namun, ada sesuatu yang berbeda dari caranya bergerak pagi itu. Aku baru mengangkat kepala ketika dia berhenti di depan meja. Dari s

