Sarapan pagi di gazebo berakhir tanpa suara penutup yang jelas. Piring-piring mulai kosong, cangkir teh tinggal uap tipis. Angin pagi tetap berembus, membawa aroma rumput basah dan bunga kamboja dari sudut taman. Baby Alan yang sejak tadi berada di pangkuan Bram mulai mengantuk, kelopak matanya turun-naik, ocehannya berubah menjadi gumaman kecil. Langkah kaki terdengar dari arah halaman depan. Rian muncul dengan setelan rapi, tablet di tangan. Ia berhenti sejenak di tepi taman, menunggu momen yang tepat sebelum mendekat. “Pak Bram,” panggilnya sopan. Bram menoleh. “Ada apa?” “Saya jemput Bapak untuk ke kantor,” jawab Rian. “Sekalian mau konfirmasi jadwal kuliah Mbak Alea.” Ia menggeser tablet, menampilkan layar. “Sudah saya kirim ke email Mbak Alea juga, barusan.” Alea yang mendengar

