Rere akhirnya menghirup udara bebas—setidaknya untuk sementara. Pagi itu, pintu besi kantor polisi yang dingin dan berbau apek tertutup di belakangnya dengan bunyi klik yang keras. Bagi sebagian orang, itu hanya suara pintu. Namun bagi Rere, bunyi itu seperti pengingat pahit: ia bebas bukan karena bersih, melainkan karena belum kalah. Ia melangkah tertatih menuju mobil taksi yang sudah menunggu. Tongkat sikunya kembali menopang tubuhnya, tapi kali ini bukan hanya kaki yang lemah—harga dirinya pun remuk, meski ia berusaha keras menutupinya dengan riasan wajah dan kacamata hitam besar. Deni berdiri di dekat mobil, wajahnya datar, profesional. “Saya sudah urus penangguhan sesuai prosedur, Bu Rere,” ucapnya singkat. “Status Ibu masih wajib lapor.” Rere mengangguk cepat, tak benar-benar

