Mall terasa lebih dingin dari biasanya. Bukan karena pendingin udara, tapi karena jarak yang tercipta di antara mereka—jarak yang justru semakin jelas oleh kehadiran orang-orang di sekeliling. Bram mendorong stroller baby Alan perlahan, satu tangannya menggenggam gagang dengan hati-hati, seolah setiap guncangan kecil bisa membangunkan bayi itu. Matanya tidak lepas dari wajah mungil yang tertidur pulas. Namun sesekali, tatapannya terangkat. Ke Alea. Mama Linda menggandeng Alea di sisi kiri, langkah mereka seirama. Alea berjalan tenang, punggung tegak, wajahnya datar tapi tidak dingin. Ia tidak mencoba mendekat ke Bram, tidak pula menjaga jarak berlebihan. Ia hanya berjalan. Dan justru itu yang membuat Bram sulit mengalihkan pandangan. “Kamu kelihatan pucat,” ujar Bram tiba-tib

