Bab 135. Persidangan

2107 Kata

Menjelang siang, halaman Pengadilan Agama mulai ramai oleh lalu-lalang orang dengan wajah-wajah tegang, map cokelat di tangan, dan langkah yang terasa berat. Udara panas Jakarta siang itu tidak seberapa dibandingkan panas yang mengendap di d**a mereka yang datang membawa perkara hidup. Sebuah mobil hitam berhenti rapi di depan pintu masuk. Bram turun lebih dulu. Jas gelap membingkai tubuhnya yang kini sudah jauh lebih tegak dibandingkan beberapa minggu lalu. Kakinya masih belum sepenuhnya pulih, langkahnya sedikit kaku, tapi tidak lagi membutuhkan kruk. Wajahnya tenang—dingin dan datar seperti biasa—seolah sidang ini hanyalah satu urusan administratif yang harus diselesaikan, bukan runtuhnya sebuah pernikahan. Di belakangnya, Lukman turun sambil merapikan map berisi berkas-berkas pentin

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN