Bab 88. Mengusir Semut Nakal

1716 Kata

Sekitar pukul lima sore, mobil hitam yang ditumpangi Bram dan Rian memasuki area rumah sakit. Langit mulai meredup, cahaya matahari senja memantul di kaca gedung, menciptakan bias jingga yang hangat—bertolak belakang dengan ekspresi Bram yang tetap dingin. Begitu turun dari mobil, Bram langsung melangkah ke bagian administrasi. Rian mengikuti sambil membawa map tipis berisi dokumen. “Saya mau mengurus perpindahan pasien atas nama Rere Handayani,” ujar Bram datar pada petugas administrasi. “Dari ruang observasi ke ruang rawat inap.” “Kelas berapa, Pak?” tanya petugas. “Kelas satu.” Rian sempat melirik singkat. Ia tahu, biasanya Bram selalu memilih VIP. Tapi kali ini tidak. Bram menandatangani berkas tanpa ragu, seolah pilihan itu sudah ia pertimbangkan matang-matang. Setelah administr

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN