Lift melaju turun dalam keheningan. Hanya ada dengung mesin, lampu indikator yang berganti angka, dan napas orang-orang yang sama-sama lelah. Alea berdiri di sudut lift, satu tangan menopang gendongan Alan, tangan lainnya terlipat di d**a. Bram berdiri agak ke samping, memberi jarak yang ia tahu masih dibutuhkan. Bu Shinta berdiri di antara mereka—bukan sebagai penengah, melainkan sebagai penyangga yang diam-diam menguatkan. Pintu lift terbuka. Restoran hotel menyambut dengan cahaya hangat dan suara lembut alunan musik piano. Tidak ramai, tapi juga tidak sepi. Sebuah ruang netral—cukup aman untuk bernapas. Mama Linda sudah duduk di meja bundar dekat jendela. Begitu melihat Alea dan Alan, ia langsung berdiri. “Alea,” sapa Mama Linda pelan, senyumnya lembut tapi penuh kehati-hatian, seo

