Bab 52. Kepergok

1604 Kata

Alea menuliskan nama lengkapnya di kotak pertama formulir itu. Tangan kirinya meremas ujung baju, berusaha menahan gemetar yang entah datang dari gugup atau dari sesuatu yang lain. Hening menggantung di antara mereka. Hening yang terlalu padat, hingga detak jam dinding terdengar begitu keras. Sesekali Alea mencuri pandang ke arah Bram, tapi pria itu justru sedang memandangnya tanpa berkedip. Tatapan yang tajam, serius, tapi juga rumit. Dan justru itu yang membuat jantung Alea berdebar tak karuan. Tinta pena menggores kertas dengan pelan saat Alea tiba pada baris “Alamat saat ini”. Ia menulis: Mansion Keluarga Bramantyo Prawira— Tapi ketika ia hendak menulis tanggal, sebuah bayangan tinggi tiba-tiba menutupi formulirnya. Bram mendekat tanpa suara. Kursinya bergeser sedikit, dan ia be

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN