Bab 112. Tak Diduga

1862 Kata

Ruang VIP itu kembali diliputi ketegangan yang berbeda—bukan lagi ledakan emosi, melainkan kepanikan yang sunyi. Wajah Alea yang semula basah oleh air mata kini menegang. Alisnya berkerut, napasnya terengah, dan jemarinya mencengkeram seprai seolah menahan sesuatu yang berdenyut hebat di kepalanya. Bram yang masih berdiri di sisi ranjang langsung menyadarinya. Tanpa ragu, ia menjangkau tombol merah di dinding dan menekannya keras. “Dokter!” serunya tertahan, bukan panik yang meledak, melainkan kepanikan yang dikendalikan. “Tolong segera ke sini.” Mama Linda bereaksi hampir bersamaan. Ia bergegas ke meja kecil, menuangkan air hangat ke dalam gelas dengan tangan yang gemetar, lalu kembali ke sisi ranjang. “Alea, Nak … sini, minum dulu,” ucapnya lembut, berusaha menenangkan. Bram melepas

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN