Bab 153. Bram Kritis

2232 Kata

Lampu merah OPERASI masih menyala. Cahayanya memantul di lantai keramik ruang tunggu lantai dua, menciptakan bayangan memanjang yang terasa dingin dan tak ramah. Detak jam dinding terdengar terlalu jelas—tik … tik … tik—seolah menghitung waktu hidup seseorang, bukan sekadar menit yang berlalu. Alan tertidur lelap di pelukan Alea. Tangis panjang yang tadi menguras tenaganya kini digantikan napas kecil yang teratur. d**a mungilnya naik-turun perlahan, jari-jarinya mengepal di lipatan baju Alea, seakan takut kehilangan jangkar terakhirnya. Alea menatap wajah itu lama, terlalu lama, hingga matanya perih. Ada rasa bersalah yang tak bisa ia jelaskan—seolah ia ingin meminta maaf pada bayi itu karena dunia orang dewasa tiba-tiba menjadi begitu kejam. Mama Linda duduk di kursi di sisi lain. Pung

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN