Rere menggigit bibir bawahnya begitu keras sampai terasa perih. Tangannya mencengkeram tongkat siku di sisi kiri tubuhnya, jemarinya memucat menahan tekanan. Lorong kantor polisi yang tadi terasa biasa saja, kini seperti menyempit, menekan dadanya dari segala arah. Ia tidak menyangka. Tidak pernah membayangkan. Di hari yang sama, di tempat ini, ia dipertemukan dengan mantan suaminya—dan lebih buruk lagi, dalam kondisi seperti ini. Matanya beralih cepat antara Bram dan Rian, lalu ke Faisal. Ada sesuatu yang langsung membuat perutnya terasa melilit: cara mereka saling menatap. Terlalu mengenal. Terlalu paham. “Kenapa mereka bisa saling kenal?” batinnya berteriak panik. “Dunia apa sih ini … kenapa sempit banget?” Ia menelan ludah. Faisal, yang sejak tadi berdiri setengah langkah di dep

