Bab 140. Kebakaran

2737 Kata

Yogyakarta. Malam telah melewati tengahnya. Jam-jam ketika kota tua itu biasanya tenggelam dalam keheningan, hanya menyisakan suara serangga, desah angin, dan sesekali dengkuran motor tua yang melintas jauh di ujung gang. Di sebuah sudut kampung yang sunyi, berdiri sebuah rumah sederhana. Catnya sudah mulai pudar, pagar besinya terkunci rapat, halaman kecilnya dipenuhi daun-daun kering. Sudah hampir sebulan rumah itu ditinggalkan pemiliknya—tanpa lampu, tanpa suara, tanpa kehidupan. Dua sosok berdiri di seberang jalan sempit. Mereka tidak berbicara keras. Bahkan napas mereka seperti sengaja ditahan. Tubuh mereka menyatu dengan bayangan malam, wajah tertutup topi dan masker tipis. Salah satunya—bertubuh lebih tinggi, bahu sedikit bungkuk—mengamati sekeliling dengan mata tajam. Namanya

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN