"Udah, dong, oles-oles lipstiknya. Udah cantik. Yuk!" Ava menoleh kepada Elang dari pantulan cermin. Ini sedang bersiap mau antar mertua ke bandara. Katanya papa Elang mau lepas landas ke tempat asal, tempat di mana gedung tinggi Luxora didirikan. "Biar makin cantik," timpal Ava. Memasukkan lipstiknya ke dalam tas selempang. Sekarang Ava bisa dandan dan mulai memperhatikan penampilan. Tidak seperti sosok Ava di kehidupan pertama yang sudah mati itu. "Mau memikat siapa, sih, dandan cantik gini? Kan, hati Mas udah terpikat." Elang mencolek dagu Ava. Haduh. Colak-colek terus. "Udah terpikat juga tetep harus dandan cantik, dong. Apalagi perginya barengan. Nanti kalau aku nggak cantik gini dikira manajernya Mas Elang." "Manajer. Memangnya suami kamu aktor pake manajer." "Jujur, kayak

