"Ava?" "Iya, Tante." Sambil cium tangan sopan. Mama Elang tersenyum. "Ya ampun, udah besar. Dulu kita pernah bertemu, lho. Ava masih ... sepinggang Elang aja belum. Oh, ya, masih ingat kami, Va?" Mata Ava agak menyipit ketika mengingat-ingat, tetapi sama sekali tidak ingat. Ava lalu meminta maaf. "Oh ... haha! Maklum, sih. Memang masih sangat kecil, pasti sudah lupa." "Ava ingatnya Kakek Uyut Danu, Tante." Karena jujur, orang tua Elang jarang terlihat. Kalaupun Ava diajak ke vila keluarga, mama dan papa Elang tidak pernah sedang di sana. "Oh, ya, silakan duduk." Mama Elang mempersilakan dengan ramah. Seketika Ava senang. Ini pertanda baik, kan? "Papa mana, Ma?" Dan jantung Ava berdebar di detik Elang menanyakan keberadaan papanya. Apakah ... beliau kurang suka dengan gagasan perte

