Bab 180 | Hadiah yang Terlambat

2815 Kata

Elan tersenyum sambil mengusap lembut rambut Ayuna saat melihat sang istri menggeliat pelan, mengabaikan suara tangisan di pagi hari yang menjadi alarm untuk mereka. “Morning, Sayang …” bisik Elan mengecup lembut kening sang istri. “Ada yang sudah menangis itu,” kekeh Elan tetap tenang meskipun tangis mereka kini mulai saling bersahut-sahutan. “Morning, Mas …” Ayuna ikut tersenyum dan tidak terlihat panik sama sekali, seolah keadaan pagi mereka yang seperti sekarang adalah sesuatu yang sudah biasa, dan tangisan mereka bukanlah pertanda apa-apa apalagi sebuah bahaya. Elan lalu beranjak dari ranjang untuk mengecek siapa yang sudah menangis lebih dulu dan membangunkan yang lain. Ternyata tangis Aleth yang paling keras seperti biasa, dan Elan langsung meraih bayi perempuan itu dengan

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN