Nisa juga tidak membangunkan putra dan suaminya ketika waktunya sholat subuh, seakan membiarkan keduanya terbiasa tanpa dirinya. Bahkan sampai membuat Dirga dan Ghaffi kesiangan, lagi mereka berdua berjalan dengan cepat kearah ruang makan. Sampai di ruang makan mereka tidak menemukan sarapan yang tersaji seperti biasa, bahkan meja terlihat kosong. Lalu pandangan keduanya teralih pada Nisa yang tengah duduk di taman belakang, mereka bisa melihatnya dari jendela kaca. Nisa tampak santai menikmati hangatnya sinar matahari, tanpa memperdulikan kedua pria itu. Bukan tidak perduli, tetapi mereka sendiri yang memulai membuat jarak dan terbiasa dengan hadirnya wanita lain. “Bunda gak buat sarapan untuk Abang?" Suara Ghaffi terdengar sendu di telinga Nisa. Wanita hamil itu hanya menggel

