Beberapa hari sudah berlalu. Nisa kembali sibuk seperti dulu lagi, bangun pagi-pagi guna membuatkan sarapan untuk putra dan suaminya. Kebetulan tadi malam Ghaffi menginap di rumahnya, dia harus bisa mengenangkan putra sulungnya dengan memasak kesukaannya. Bukan hanya untuk Ghaffi saja, tetapi juga untuk Kainan, tidak ada lagi pilih kasih ataupun membedakan satu sama lain. Setelah merasa semua tidak ada yang kurang, Nisa memanggil tiga pria kesayangannya itu untuk sarapan bersama. “Waahh!!.. Akhirnya bisa makan sepuasnya masakan Bunda." Kainan sangat antusias, tidak terkecuali dengan Ghaffi, hanya saja pemuda itu terlalu datar ekspresinya. Nisa tersenyum bahagia, dia melayani suami dan kedua putranya, meskipun Ghaffi memintanya untuk duduk, tetapi dia ingin melakukannya, rindu s

