Hanya butuh waktu dua jam bagi Tuan George untuk mendapatkan semua informasi yang dia inginkan. Anak buahnya bekerja dengan baik dan gesit. Tangannya mengepal erat, semua seperti dugaannya, Rayyan menjual saham bukan karena benar-benar ingin pergi, tetapi karena ancaman seseorang. “Bagaimana usaha Rayyan yang di Kairo?" Tanya Dirga masih berharap ada hal baik untuk dia dengar. Pria berbadan kekar itu menoleh kearah Dirga. “Nama Restorannya tidak ada yang berubah, Pak, hanya saja pemiliknya... " Pria itu kembali ragu untuk mengatakannya. Dirga mendongak sembari memberikan tatapan nyalang. “Siapa pemiliknya?" Pria itu menundukkan pandangannya lalu melirik kearah Tuan George. “Nyonya Besar." Baik Dirga maupun Tuan George sama-sama terkejut. “Jangan asal bicara, itu tidak mungkin."

