Malam semakin larut saat mobil sedan mewah Damar memasuki halaman rumah mereka yang asri namun terasa sunyi. Arina turun dari mobil dengan langkah gontai, kepalanya masih berdenyut memikirkan ucapan mertuanya di meja makan tadi. Setiap langkah di atas lantai granit yang dingin itu terasa seperti beban yang menariknya ke dasar jurang keputusasaan. Ia segera masuk ke kamar, mencoba menghilangkan bau ketegangan dan aroma rendang yang kini terasa mual di perutnya dengan mandi air hangat yang lama.
Di balik uap air yang memenuhi kamar mandi, Arina menatap pantulan dirinya di cermin yang buram. Hari ini adalah hari ke-empat belas dalam siklusnya. Berdasarkan aplikasi pemantau kesuburan dan tes urin yang ia lakukan pagi tadi, hormon LH-nya sedang berada di puncaknya. Ini adalah malam yang sempurna secara biologis. Arina sudah menyiapkan segalanya dengan penuh harapan yang rapuh. Ia memakai lingerie sutra berwarna merah marun yang selama ini hanya tersimpan di laci bawah, serta menyemprotkan parfum dengan aroma vanila lembut yang pernah dikatakan Damar sebagai aroma favoritnya.
Saat ia keluar dari kamar mandi, Damar sedang duduk di tepi ranjang, sudah memakai piyama tidurnya. Pria itu tampak sedang memijat pelipisnya dengan gerakan yang terlihat sangat letih. Cahaya lampu nakas yang temaram memberikan bayangan tajam pada garis rahangnya yang kokoh, membuat Damar terlihat seperti patung yang menyimpan ribuan rahasia.
"Mas, kamu lelah?" tanya Arina lembut, mendekat dan meletakkan tangannya di bahu Damar yang bidang.
Damar mendongak, matanya menatap Arina dari atas ke bawah. Ada kilatan kekaguman sesaat yang tertangkap oleh indra Arina, membuat jantungnya berdesir penuh harap. Namun, binar itu redup secepat kilat, digantikan oleh gurat kelelahan yang tampak sangat dipaksakan.
"Kamu cantik sekali malam ini, Rin. Tapi ...." Damar menggantung kalimatnya, membiarkan keheningan kamar yang dingin mengisi celah di antara mereka. Ia memalingkan wajah, seolah tak sanggup menatap usaha keras istrinya di balik balutan sutra merah marun itu.
Arina duduk di sampingnya, membiarkan jemarinya membelai tengkuk suaminya dengan gerakan yang sarat akan kerinduan. "Ini malam ke-empat belas, Mas. Kamu ingat kan? Kita sudah janji untuk mencoba lagi bulan ini dengan lebih serius. Aku sudah mengatur jadwalku di rumah sakit agar tidak ada operasi darurat besok pagi. Aku ingin kita benar-benar fokus malam ini."
Damar terdiam, helaan napasnya terdengar berat dan panjang, seolah ia sedang memikul beban seluruh dunia di pundaknya. Ia meraih tangan Arina, menciumi telapak tangannya dengan lembut namun terasa sangat formal. "Rin, aku ... aku punya kabar buruk. Benar-benar di luar kendaliku."
Jantung Arina seolah berhenti berdetak sesaat. Dingin menjalar dari ujung kakinya hingga ke ubun-ubun. "Apa? Jangan bilang kamu ada jadwal terbang mendadak lagi, Mas. Tolong, jangan malam ini."
Damar mengangguk pelan, wajahnya tampak penuh penyesalan yang begitu meyakinkan. "Baru saja ada telepon dari Kantor Ops saat aku di kamar mandi tadi. Kapten Hendro jatuh sakit tiba-tiba, serangan jantung ringan katanya. Tidak ada kapten lain yang bisa menggantikan untuk rute Jakarta-Singapura-Bali besok pagi jam enam. Aku harus berangkat ke bandara jam empat pagi ini, Rin. Aku harus istirahat sekarang agar fit saat terbang nanti."
"Tapi Mas, ini masa suburku! Kamu sudah janji!" suara Arina sedikit meninggi, rasa frustrasi yang ia pendam sejak di rumah mertuanya mulai tumpah seperti bendungan yang jebol. "Setiap kali masa suburku tiba, selalu saja ada jadwal dadakan. Apa tidak ada pilot lain di maskapai sebesar itu? Kamu itu Kapten Senior, Mas. Kamu punya posisi untuk menolak atau setidaknya meminta pengganti lain!"
"Ini soal profesionalitas, Sayang. Kamu sendiri dokter, kamu tahu bagaimana rasanya jika ada pasien darurat dan tidak ada dokter pengganti di rumah sakit," Damar berdiri, mencoba memeluk Arina untuk meredam amarahnya, namun Arina menghindar dengan gerakan cepat. "Jangan seperti ini. Aku juga tidak mau pergi. Kamu pikir aku senang meninggalkan istri secantik ini di rumah sendirian?"
Arina menatap Damar dengan mata berkaca-kaca, dadanya naik turun menahan isak yang mulai menyesakkan. "Tugas atau kamu memang sengaja menghindar dariku? Papa dan Mama menyalahkanku setiap hari, memintaku memberikan cucu seolah aku ini mesin pabrik yang rusak, tapi bagaimana aku bisa hamil jika suamiku selalu berada di ketinggian tiga puluh ribu kaki setiap kali aku membutuhkannya? Kamu selalu punya alasan, Mas!"
Damar mendekat lagi, kali ini ia tidak membiarkan Arina menghindar. Ia menggunakan kekuatannya untuk memeluk pinggang istrinya, menariknya mendekat hingga tubuh mereka bersentuhan erat. Aroma maskulin bercampur sisa parfum kantor Damar menyerang indra penciuman Arina. Damar memberikan ciuman panas di ceruk leher Arina, sebuah area sensitif yang biasanya mampu meruntuhkan pertahanan Arina dalam sekejap.
"Aku janji, Sayang. Hanya penerbangan ini. Setelah pulang dari Bali lusa, aku akan ambil cuti tiga hari penuh. Kita akan pergi berdua saja ke mana pun kamu mau, tanpa gangguan telepon kantor, tanpa tekanan orang tuaku. Aku akan memberikanmu hadiah spesial dari Bali. Apa pun yang kamu mau, perhiasan dari desainer ternama, tas baru, sebutkan saja," bisik Damar dengan suara rendah yang serak dan menggoda.
"Aku tidak butuh tas baru, Mas. Aku tidak butuh perhiasan mahal. Aku hanya butuh kamu di sini, menemaniku, berjuang bersamaku untuk keluarga kita," lirih Arina, mulai kalah oleh sentuhan-sentuhan Damar yang selalu tahu cara menjinakkan amarahnya.
"Aku tahu. Maafkan aku ya? Aku akan menebus semuanya lusa nanti," Damar mengecup kening Arina lama, seolah memberikan stempel pada janjinya. Ia kemudian beralih ke bibirnya, memberikan ciuman perpisahan yang terasa seperti madu manis namun menyisakan rasa getir yang samar di lidah Arina. Damar kemudian merebahkan diri, menarik selimut dan segera memejamkan mata, meninggalkan Arina yang masih terpaku dalam balutan lingerie merah marun yang kini terasa sia-sia.
Pukul tiga tiga puluh pagi, alarm ponsel Damar berdering dengan nada yang memekakkan telinga di tengah keheningan kamar. Arina terbangun dengan mata sembab dan melihat suaminya sudah bergerak lincah, sangat rapi dengan seragam pilotnya yang gagah. Kemeja putih bersih dengan bar emas di bahu, celana kain hitam yang disetrika dengan garis tajam, dan topi kapten yang diletakkan di atas nakas seolah-olah itu adalah mahkota kekuasaannya. Damar tampak sangat bersemangat, sorot matanya tajam dan waspada, sama sekali tidak seperti pria yang baru tidur kurang dari empat jam.
"Aku berangkat ya, Sayang. Tidurlah lagi, hari ini kamu tidak ada jadwal pagi kan?" ucap Damar sambil mengancingkan jam tangan mewahnya. Ia membungkuk, memberikan ciuman perpisahan yang singkat namun intens di bibir Arina. "Ingat janji kita. Lusa aku pulang dengan kejutan besar untukmu."
Arina berdiri di teras rumah yang masih gelap gulita, mendekap lengannya sendiri karena hawa dingin dini hari yang menusuk hingga ke tulang. Ia memperhatikan lampu belakang mobil Damar yang perlahan mengecil dan akhirnya menghilang di tikungan komplek. Sunyi kembali menyergap, lebih pekat dari sebelumnya. Di tengah kesunyian itu, sebuah firasat buruk tiba-tiba melintas di benaknya seperti kilat di malam gelap. Sebuah bisikan halus di sudut hatinya mengatakan bahwa suaminya bukan sedang mengejar mimpi di angkasa luas, melainkan sedang berlari kencang menuju pelukan yang lain.
Ia teringat nama 'Amanda' yang sempat muncul di ponsel Damar semalam. Mengapa seorang pramugari harus mengirim pesan pribadi di luar jam kerja jika itu hanya soal teknis? Mengapa Damar tampak begitu segar saat akan pergi di pagi buta seperti ini? Arina menggelengkan kepalanya kuat-kuat, mencoba menepis pikiran negatif yang ia anggap sebagai manifestasi dari hormon stresnya. Ia kembali masuk ke dalam rumah, namun setiap sudut ruangan kini terasa asing baginya. Rumah mewah ini semakin terasa luas, hampa, dan kosong, persis seperti ruang di dalam dadanya yang kian hari kian tergerus oleh janji-janji yang tak pernah ditepati.
Arina kembali ke kamar, namun matanya tak bisa lagi terpejam. Ia meraih ponselnya, jari-jarinya ragu-ragu di atas layar. Ia ingin mencari tahu siapa Amanda, namun harga dirinya sebagai seorang dokter dan istri sah menahannya. Ia merasa hina jika harus memata-matai suaminya sendiri. Namun, rasa penasaran itu seperti parasit yang mulai menggerogoti logikanya. Sambil menatap langit-langit kamar yang sunyi, Arina menyadari bahwa pernikahan mereka sedang berada di jalur turbulensi hebat, dan ia tidak yakin apakah sang Kapten benar-benar berniat menyelamatkan pesawat mereka atau justru sedang bersiap untuk melompat keluar menggunakan parasut rahasia.