Mobil sedan hitam melaju memasuki area basement gedung Dahayu Design. Sepanjang perjalanan dari bandara, Bening tidak berhenti menangis. Air matanya terus mengalir—membasahi pipi, membasahi kemeja yang dipakainya. "Papa pasti stress berat. Penyakit jantungnya bisa kambuh. Gimana ini, Mas?" Bening terisak sambil mengusap air matanya dengan tissue yang sudah lusuh. Galang, yang duduk di sampingnya, terlihat sangat tenang. Bahkan sejak tadi dia sibuk dengan ponselnya—mengetik sesuatu, membaca pesan, melakukan panggilan singkat. Ekspresinya datar, tidak terlihat panik sama sekali. "Mas! Kok malah main hp sih?! Papa sedang dalam masalah besar!" Bening protes dengan suara bergetar. Galang melirik sekilas, lalu kembali fokus ke ponselnya. "Sayang, tenang ya. Aku sudah akan membereskan masalah

