Aku berdiri di balik Jeruji besi dimana di dalamnya sekarang ada Rama yang duduk di kursi roda denga kondisi kaki yang sudah tidak ada. Laki-laki itu terlihat berantakan setelah pembacaan vonis hukuman berat untuknya. Rama bahkan tidak berani menatap mataku saat ini. Laki-laki ini sudah kalah. Karena sampai kapanpun, kejahatan tidak akan bisa mengalahkan kebenaran. “Wendy selalu bilang lo teman yang menyenangkan. Dia bahkan sering banget bercerita tentang kepintaran lo dalam banyak bidang. Seandainya saja hati lo nggak di penuhi dendam, mungkin lo sekarang sudah berdiri sebagai orang yang sukses.” Ucapku mulai bicara. Rama diam saja. “Bagaimana rasanya menghancurkan seseorang? Menyenangkan?” ucapnya tiba-tiba membuat aku tertawa. “Yang menghancurkan lo itu diri lo sendiri! Jangan suka m

