Yang paling menyebalkan dari penggrebekkan malam ini adalah wajah Berandalan itu yang terlihat senang bukan main padahal aku malu sekali pada pak Ustadz. Dia bahkan pulang ke rumahnya dengan wajah yang berbinar seolah dia baru saja menang lotre dengan nominal milyaran rupiah. Tapi sekesal apapun aku padanya, aku tetap harus menerima pernikahan ini terjadi lebih cepat. Sekalipun jujur saja aku sedikit takut, gugup, dan masih ada sedikit rasa malu karena merasa belum mempersiapkan diriku untuk menjadi seorang istri dengan lebih matang. Debaran jantungku menggila hingga membuat aku kesulitan tidur malam ini. “Masih nangis?” sebuah pesan dari Regarta membuat aku langsung mendial nomornya. Aku butuh bicara dengannya sebelum esok hari. “Assalamu’alaikum calon istri.” Jawabnya manis. “Wa’alaik

