"Entah kenapa setelah istri kamu mengijinkan kamu buat deket sama aku, aku malah kesal." ucap Erni mengagetkanku. "Karena sebenarnya yang kamu inginkan bukan aku." balasku dengan mata tetap fokus pada tablet di tanganku. Daripada fokus pada Erni, lebih baik aku fokus pada pekerjaanku. "AKu tidak mengerti." desahnya lirih. "Aku rasa istriku lebih bisa memahami kamu di banding dirimu sendiri." ucapku. Erni terdiam beberapa saat dan aku tidak peduli. Perjanjianyaku dengan Wendy hanya tentang mengajak wanita ini jalan saja. Urusan aku ramah atau tidak itu bukan urusanku karena tidak termasuk dalam perjanjian itu. Jadi aku bisa bersikap sesukaku dan tidak melanggar perjanjian apapun. Aku masih dapat dua permintaan berharga dari Wendy. Rasanya karena kasus ini aku lumayan menang banyak. Sel

