BAB 56. Sebuah Teror

2034 Kata

Sebenarnya aku ingin merajuk dan protes karena aksi nakalnya di kantor kemarin. Tapi melihatnya kelelahan di meja kerjanya, sementara sekarang sudah jam tiga pagi. Aku tidak tega. Laki-laki ini selalu menemani aku tidur dulu agar malam-malam dia bisa bangun pelan-pelan dan lembur. Dia melakukan itu pasti karena tidak mau aku kelelahan karena sikap keras kepalaku yang selalu ingin menemani dia lembur. “Mas udah jam tiga, tidur yuk!” Aku merengek sambil memeluk lehernya daribelakang. Regarta tersenyum kemudian menarik tanganku. Lalu menepuk pahanya, agar aku duduk di sana. Aku melakukannya dengan suka rela lalu masuk ke dalam pelukan hangatnya. “Sebentar lagi yah sayang, dikit lagi aku kelar. Kamu udah nggak ngambek nih cerinya?” kekehnya geli. “Jangan lagi dibahas mas, nanti aku ngambek

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN