Ina mau menelpon Dhevi untuk memberitahukan bahwa rencana akhir pekan mereka untuk mencari cincin harus dibatalkan. Lebih dari itu, ia perlu curhat. Perlu seseorang yang bisa meredakan kekhawatiran dalam benaknya. Dan untuk hal - hal seperti ini, orang itu tak lain adalah calon adik iparnya yang juga sudah seperti saudaranya sendiri. Tangannya mulai menari di atas layar, mengetikkan pesan untuk Dhevi. Ina Dek, lagi sibuk nggak? Bisa telepon? Ia sengaja tidak langsung menelepon, ia khawatir Dhevi sedang sibuk di kantor, maklumlah ini masih jam kerja, istirahat siang masih lama. Tapi pesan itu belum sempat dibalas secara teks, justru dalam hitungan detik, panggilan telepon masuk. Nama Dhevi muncul di layar. Ina buru - buru menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel ke telinga. "Halo

