Ruangan restoran itu hangat, lampu temaram memantulkan kilau pada gelas-gelas dan peralatan makan yang tersusun rapi. Di luar jendela, lampu kota mulai menyala berkerlip pelan seperti barisan bintang, aroma bawang putih panggang, mentega, dan rempah menyatu, menggoda selera. Meja mereka terletak sedikit menyudut, memberi privasi yang pas cukup untuk membuat pembicaraan jadi intim, namun tetap diiringi desah dan gelak tawa meja-meja lain. Obrolan mereka terjeda sebentar saat pelayan menyandarkan piring dengan gerakan terlatih, bau salmon yang diasapi memenuhi udara di antara mereka. Piring Anggita diisi salmon steak yang tampak mengkilap dan lembut, dihiasi irisan lemon, setangkup salad segar, dan kentang tumbuk yang halus. Di hadapan Pak Windra muncul steak tenderloin, potongan daging teb

