Papa Windra akhir - akhir ini lebih cocok disebut sebagai 'pengangguran banyak acara'. Dalam satu minggu, paling - paling ia hanya datang ke kantor satu kali. Itu pun waktunya random, tergantung suasana hatinya. Selebihnya, ia lebih banyak di rumah menemani Anggita, istrinya yang tengah hamil tua. Kalau pun ada urusan penting, stafnya akan datang ke rumah untuk berdiskusi atau sekadar meminta tanda tangannya. Anggita sudah beberapa kali menyuruh suaminya itu ke kantor agar tidak bosan, tapi yang ada justru ia sendiri yang disuruh duduk santai dan tidak banyak bergerak. Papa Windra sepertinya menikmati peran barunya manajer rumah tangga sekaligus bodyguard pribadi istrinya. "Lusa kan kita sudah ke Bali, Mas... nggak mau ke kantor dulu, besok?" tanya Anggita sambil duduk di lantai kamar, m

