Suster Tia melangkah cepat menuju ruangan praktik dokter Dhannis. Wajahnya sedikit tegang bukan karena kesalahan besar, tapi karena satu hal kecil yang cukup membuatnya merasa tidak nyaman: ia terlambat kembali. Bukan kebiasaan yang ingin ia ulangi, apalagi kepada dokter seprofesional dan setenang Dhannis. Begitu masuk ke ruangan, ia mendapati pasien terakhir ibu Ane sudah berbaring di atas tempat periksa. Tanpa banyak bicara, ia langsung membantu proses pemeriksaan seperti biasa. Dhannis tidak berkata sepatah kata pun menanggapi keterlambatannya. Hanya satu tatapan cepat saat suster Tia masuk. Tapi dari sorot matanya, jelas ia ingin bertanya banyak, namun tentu tidak di depan pasien. Setelah pemeriksaan selesai, pasien duduk kembali di kursi depan meja dokter, berbicara sebentar mengen

