Mereka Menyatu

2113 Kata

Malam sudah larut ketika Dhannis perlahan membuka matanya. Bukan karena suara bising, bukan karena mimpi buruk. Cahaya lampu di pojok kamar masih menyala temaram, menciptakan suasana hangat di kamar hotel yang megah dan beraroma bunga segar. Dinding kaca besar di sisi kanan kamar menampilkan siluet kota Amsterdam yang tenang, dengan lampu - lampu kanal berkelap - kelip seperti bintang jatuh di permukaan air. Mereka baru tiba beberapa jam yang lalu dari Jakarta, penerbangan panjang yang melelahkan, tapi begitu sampai di kamar hotel paling ikonik di jantung Amsterdam, segala rasa lelah seperti menguap. Dhannis yang baru sadar kalau ia tadi ketiduran, entah untuk berapa lama, kini merasa ada yang lembut mengusap dadanya. Tangan Ina. Ia menoleh pelan. Di sisi tempat tidur, Ina sedang mena

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN