Diam-Diam Dharren Menggalau

3013 Kata

"Mas, kapan kita ke dokter?" tanya Disti pelan ketika mobil mereka melaju tenang di antara lampu - lampu kota yang sudah menyala. Suaranya terdengar ragu, tapi cukup jelas untuk mengusik kesunyian di dalam kabin mobil yang dikendarai Dharren. Pertanyaan itu membuat Dharren menoleh cepat sekilas, sebelum kembali fokus ke jalanan di depannya. Tidak ada nada cemas dalam suara Disti, justru seperti sebuah keputusan yang sudah bulat. Dharren terdiam sejenak. Bukan karena tak tahu harus menjawab apa, tapi karena ia sedang menyimpan senyum yang hampir saja mengembang terlalu cepat. Dalam hati, ia bersyukur. Pertanyaan itu seperti hadiah yang datang sebelum waktunya. Disti memang sudah bilang akan menjawab soal itu satu dua hari ini, setelah ia bisa berpikir lebih tenang. Tapi sampai tadi pagi

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN