Om Rayyan duduk di depan Pak Windra, kakaknya, di dalam ruang kerja yang kini tertutup rapat. Suasana begitu senyap. Tak ada suara angin dari jendela, tak ada desis AC, hanya suara detik jam dinding yang berdetak pelan seolah menjadi pengiring suasana mencekam di antara dua lelaki dewasa itu. Baru sepuluh menit lalu, Pak Windra tiba di rumah bersama Adel. Setelah perkenalan singkat dengan Om Rayyan yang selama ini hanya dikenalnya sekali lewat, Adel kini naik ke lantai atas. Om Rayyan meminta waktu empat mata dengan sang kakak, karena ada sesuatu yang terlalu serius untuk dibicarakan di hadapan orang lain. "Ada hal penting apa hari Minggu gini?" tanya Pak Windra, bersandar di kursi empuknya, mencoba bersikap santai. "Yang jelas ini berita buruk, Mas," ujar Om Rayyan, menatap lurus ke de

