Di ruang keluarga rumah Eyang Nino, suasana tegang menggantung seperti benang tipis yang siap putus kapan saja. Ruangan luas itu, yang biasanya dipenuhi tawa cucu - cucu dan suara obrolan ringan, kini terasa begitu berat. Sofa panjang berwarna krem yang menghadap meja kayu jati besar menjadi tempat berkumpul para orang tua keluarga ini. Eyang Nino duduk di tengah, tegap dan berwibawa seperti biasanya. Rambut yang memutih malah mematangkan kharismanya, meski matanya mengamati Dharren dengan sorot yang penuh kekhawatiran. Di sebelahnya ada Yangti Sarah, yang sesekali memegang jemarinya sendiri seolah menahan diri untuk tidak ikut bicara terlalu banyak setelah mendengar kisah tentang rumah tangga cucu tertuanya itu. Papa Azki duduk di sisi kanan, tubuhnya sedikit condong melindungi Mama Dea

