Keesokan pagi, di ruang keluarga, Tria sedang sibuk mengurus Ian, cucu kecil yang baru saja selesai sarapan bubur. Anak itu tertawa-tawa riang, tangan mungilnya sibuk mainan mobil remotenya di karpet. “Eh, Yanna.” Tria menoleh sambil tertawa kecil, “Baru kemarin wajahmu sembab nangis, sekarang sudah glowing lagi. Jangan-jangan ada yang bikin kamu senyum-senyum sendiri, ya?” godanya sambil mengangkat alis. Yanna tersipu, pipinya langsung memerah. “Bulik … ah, bisa aja,” jawabnya malu-malu, namun sorot matanya tak bisa berbohong. Ada kebahagiaan yang sulit ia sembunyikan. Tria mendekat, menepuk pelan bahu keponakannya. “Alhamdulillah … Bulik bersyukur banget. Setelah semua yang kamu lalui, akhirnya Allah kasih ganti yang jauh lebih baik. Ibu Widya juga senang sekali. Bulik tahu, masa i

