Bab 148. Hari Bahagia

1511 Kata

Hari itu matahari tampak redup di balik awan kelabu. Setelah kejadian di kantor, Adnan tak ingin menunda satu hal pun. Ia menggenggam tangan Indira erat, menuntunnya menuju rumah sakit untuk visum. Langkah-langkah mereka terasa berat—bukan karena luka fisik semata, tapi karena luka hati akibat penghinaan dan kekerasan yang tak seharusnya diterima Indira. Di ruang pemeriksaan, dokter perempuan memeriksa dengan teliti bekas lebam samar di lengan dan pipi Indira. Sesekali Adnan menatapnya dengan rahang mengeras, seolah ingin menahan amarah yang masih mendidih di dadanya. “Semua hasilnya akan saya buatkan laporan resmi, Pak Adnan,” ujar sang dokter lembut. “Luka tidak terlalu parah, tapi tetap masuk kategori kekerasan ringan.” Adnan mengangguk. “Terima kasih, Dok.” Tatapannya lalu beralih

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN