Jam menunjukkan pukul sebelas siang ketika mobil hitam mewah milik Adnan perlahan berhenti di depan lobi utama gedung Adnan Group. Cuaca Jakarta sedang cerah—langit biru membentang bersih, sementara sinar matahari memantul di kaca tinggi gedung itu, memberi kesan megah dan berwibawa. Pintu mobil terbuka. Dari dalam, Adnan turun lebih dulu, mengenakan jas dan celana abu gelap. Namun, sesuatu yang jarang terlihat hari ini membuat semua mata karyawan di sekitar lobi membulat: Adnan tidak datang sendiri. Di lengannya, ia menggendong bayi mungil berbalut selimut putih lembut — Alyana, putri kecilnya. Sementara tangan satunya menggandeng lembut Indira, istrinya, yang tampil sederhana tapi anggun dengan dress navy dan blazer putih. Di belakang mereka, Dita, baby sitter Alyana, mendorong strolle

