Keesokan pagi, Darius membuka matanya perlahan. Ia menarik napas dalam-dalam, bibirnya melengkung dalam senyum bahagia. Di sampingnya, Yanna masih terbaring pulas, wajahnya tenang dan damai, rambutnya yang panjang terurai berantakan di bantal. Hatinya terasa penuh, seolah seluruh kekosongan yang dulu ada dalam hidupnya kini telah terisi. “Ya Allah … terima kasih,” gumamnya pelan. Jemarinya mengelus pelipis Yanna yang lembut, lalu berhenti di pipi istrinya. Ia menunduk, mengecup pelan pipi itu. “Cantik sekali kamu, Sayang.” Darius bangkit pelan, bermaksud pergi ke kamar mandi untuk mandi dan berwudhu. Tapi sebelum benar-benar meninggalkan ranjang, ia kembali menunduk, mencium pipi Yanna sekali lagi. Kali ini lebih lama, hangat, penuh sayang. Yanna bergerak sedikit, kelopak matanya berget

