Bab 117. Kehidupan Baru & Bayang Masa Lalu

1135 Kata

Kebahagiaan seakan menyelimuti rumah besar itu malam itu. Setelah test pack menunjukkan dua garis samar yang membuat semuanya terisak haru, Adnan merasa seperti diberi kesempatan kedua oleh Tuhan. Sejak saat itu, Adnan tak bisa melepaskan tangannya dari perut istrinya. Berkali-kali ia menunduk, mengecup perut Indira dengan penuh cinta. Senyumnya tak pernah luntur, bahkan meski tubuhnya masih terasa lemas karena muntah pagi tadi. “Besok pagi kita ke dokter, ya. Aku nggak sabar pengen denger detak jantungnya,” ucap Adnan dengan binar yang begitu hangat. Indira tersenyum kecil, meski matanya masih sembab karena tangis bahagia. “Iya, Mas. Aku juga penasaran … sehat nggak dia di dalam sana.” “Papa, Mama ... Ian au unya dede bayi ya?” “Iya, Sayang, nanti Ian jadi kakak,” sahut Adnan semb

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN