Bab 110. Masa Nggak Boleh, Sayang?

1106 Kata

Siang yang meriah itu perlahan berganti sore, lalu menjelang malam. Tenda di halaman rumah sederhana milik keluarga Indira kini mulai lengang. Satu per satu tamu yang sejak siang memenuhi kursi dan meja, sudah berpamitan. Anak-anak yang tadi riuh berlarian, kini digendong pulang dalam pelukan orang tuanya. Kursi-kursi plastik tersusun kembali ke tempatnya, piring-piring kotor mulai dikumpulkan. Indira duduk di kursi pelaminan yang mulai sepi, senyumnya masih tersisa meski wajahnya tampak lelah. Gaun kebaya biru yang ia kenakan sejak akad nikah tadi sudah terasa berat di tubuhnya. Tangannya sibuk merapikan selendang yang jatuh ke pangkuan. Pandangannya sesekali mengarah ke arah para tetangga yang masih setia membantu membereskan halaman rumah. Di sampingnya, Adnan tampak masih segar mesk

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN