Jam menunjukkan pukul satu siang. Langit Jakarta masih terang, menyisakan cahaya lembut yang menerobos masuk melalui jendela besar lantai lima belas kantor Adnan Group. Di ruang kerja pribadi direktur, suasana terasa tenang. Baby Alyana telah tertidur pulas di kamar kecil yang memang disediakan khusus untuknya, ditemani oleh Dita, babysitter yang duduk membaca majalah sambil sesekali menatap si kecil yang meringkuk damai. Adnan berdiri di depan cermin besar, merapikan jas. Di belakangnya, Indira memakaikan dasi dengan gerakan lembut yang sudah begitu terbiasa. “Mas, jangan terlalu kencang,” katanya sambil tersenyum kecil. “Nanti susah napas waktu rapat.” Adnan menatap bayangan istrinya di cermin, lalu berbalik, menatap langsung wajah wanita yang kini menjadi pusat hidupnya. “Kalau kam

